Myhimee’s Weblog











{May 16, 2008}   Perkembangan Arsitektur

ARSITEKTUR PRA-MODERN BARAT

Dalam bagian ini pokok bahasan dibatasi pada perkembangan arsitektur Barat mulai zaman pra-modern sampai modern. Periode yang termasuk dalam arsitektur pra-modern Barat antara lain:

PERIODE ARSITEKTUR

KLASIK Yunani

Romawi

ROMANTIC Byzanthium

Romanesque

Gothic

Renaissance

Baroque

NEO KLASIK Art Nouveau

Art Deco

REVOLUSI INDUSTRI

MODERN

1. PERIODE KLASIK

Arsitektur yang termasuk dalam periode ini meliputi:

a. Arsitektur Klasik Yunani

Sebagai akar dari arsitektur Barat, arsitektur klasik Yunani ditandai dengan hadirnya Kuil Parthenon yang menjadi icon dari jaman ini. Bentuk bangunan yang terjadi banyak dipengaruhi oleh kepercayaan politheisme yang dianut oleh masyarakatnya, terlihat dari kuil-kuil yang berbeda untuk menyembah dewa-dewa yang berbeda pula.

Adapun tipologi arsitektur kuil pada periode ini adalah:

¨ Menggunakan struktur dinding masif dengan material batu alam yang dipotong persegi dan ditumpuk. Karena bukaan yang mampu dibuat sangat minimal, maka bagian ruang dalam menjadi gelap. Cahaya hanya datang dari pintu di depan saja.

¨ Penggunaan struktur tumpuk juga pada kolom di luar bangunan. Di atas kolom, terdapat balok horizontal penyangga atap yang disebut entablature. Sebagai konsekuensi dari penggunaan struktur tumpuk batu masif pada bagian ini, maka bentang lebar tidak dimungkinkan, sehingga jarak antar kolom relatif sempit.

Pada hubungan antara kolom dan entablature biasa diberi ornamen berupa ukiran yang kemudian dikenal dengan gaya Doric. Pada masa Romawi gaya kolom ini dikembangkan lagi menjadi Ionic dan Corinthian.

Elemen-elemen yang biasa didapati pada arsitektur Klasik (A: entablature, B: kolom, C: cornice, D: frieze, E: architrave, F: capital, G: shaft, H: dasar, I: plinth,1: guttae, 2:metope, 3: triglyph, 4: abacus, 5: echinus, 6: volute, 7: mutule, 8: dentils, 9: fascia)

fascia)

¨ Struktur utama penyangga atap juga tersusun dari batu dan disebut pediment, ditopang oleh entablature.

¨ Adanya deretan kolom di luar dinding bangunan. Selain mencitrakan kesan megah secara visual (bentuk kolom langsing tinggi yang sangat besar dibandingkan dengan skala manusia), hal ini berhubungan dengan kepercayaan masyarakat Yunani yang sangat sensitif terhadap alam. Mereka menganggap tanda-tanda yang terjadi di alam adalah perlambang kehadiran para dewa. Oleh karena itu mereka selalu berusaha dekat dengan alam, dan kuil pun dibuat seolah-olah terbuka dan tidak masif (deretan kolom mengurangi kesan masif dari bangunan).

Site plan Acropolis di Athena

Site plan Acropolis di Athena

Interior Kuil Parthenon (selesai 438 SM)

Interior Kuil Parthenon (selesai 438 SM)

Eksterior kuil Parthenon

Eksterior kuil Parthenon

kolom

kolom

entablature

entablature

pediment

pediment

¨ Di bagian depan tengah terdapat patung dewa.

b. Arsitektur Klasik Romawi

Pada periode ini tingkat peradaban dan teknologinya sudah lebih tinggi dari Yunani. Namun demikian bentuk dasar arsitekturnya tetap mengambil beberapa bentuk dari arsitektur klasik Yunani. Apabila periode Yunani memiliki kuil Partheon, maka periode Romawi memiliki kuil Pantheon sebagai simbol yang terkenal.

Beberapa tipologi utama dari periode ini adalah:

¨ Penggunaan teknologi pembuatan busur dengan struktur batu yang ditumpuk, baik pada bukaan (pintu, jendela) maupun pada bagian “kepala” bangunan. Busur yang diaplikasikan untuk membuat penutup bagian atas bangunan biasa disebut struktur kubah monolit. Pembuatannya adalah dengan menggeser batu sedikit demi sedikit sehingga menghasilkan kemiringan.

Potongan

Potongan

Denah pantheon

Denah pantheon

Penumpukan batu yang digeser sedikit demi sedikit

Penumpukan batu yang digeser sedikit demi sedikit

Eksterior kuil Pantheon

Eksterior kuil Pantheon

Interior kuil Pantheon

Interior kuil Pantheon

Kuil Pantheon memiliki lubang pada puncak kubah sebagai sarana memasukkan cahaya dari atas. Dapat dikatakan bahwa teknologi penerangan Romawi sudah lebih maju dibanding Yunani. Hal ini dipengaruhi juga oleh faktor kepercayaan. Seiring dengan peredaran matahari, suasana dalam interior diibaratkan sebagai “rotunda yang berputar siang dan malam, bagaikan nirwana.”

Struktur busur batu juga digunakan dalam pembuatan gerbang. Orang Romawi sering membuat gerbang besar di perbatasan yang menuju wilayah yang telah ditaklukkannya, sebagai perlambang kemenangan dan kejayaan.

¨ Adanya variasi kolom yang lebih estetis dari periode Yunani. Sudah dijelaskan sebelumnya.

¨ Kolom mulai menempel pada dinding, tidak terpisah seperti pada bangunan Yunani.

Maison Car ée di Nimes (awal abad 1 M)

Maison Car ée di Nimes (awal abad 1 M)

¨ Penemuan dan pengembangan beton sebagai material bangunan.


2. PERIODE ROMANTIK

Periode Romenatik terdiri dari beberaba periode, yaitu periode Byzanthium, Romanesque, Gothic, Renaissance, serta Baroque dan Rococo. Karena pada dasarnya denahnya merupakan pengembangan dari tatanan denah periode klasik, maka dari segi ini tidak ada perubahan yang signifikan.

a. Byzanthium (sekitar awal abad III)

Bangunan pada era ini masih menggunakan tipikal bentuk dari jaman Romawi, yaitu bentuk kubah dan busurnya. Tetapi perbedaannya, pada jaman Romawi kuilnya merupakan kuil Politheis, sedangkan untuk jaman Byzanthium bangunannya digunakan untuk gereja (sudah bersifat Monotheis). Denah bangunan mengikuti bentuk salib Romawi.

Eksterior Hagia Sophia, Konstantinopel (Istanbul)

minaret ditambahkan belakangan, setelah fungsinya berubah menjadi masjid.

Eksterior Hagia Sophia, Konstantinopel (Istanbul) minaret ditambahkan belakangan, setelah fungsinya berubah menjadi masjid.Contoh dari Arsitektur Byzanthium ini adalah Hagia Sophia. Pada jaman ini mulai dikembangkan busur yang ditopang oleh kolom langsung (jadi tidak ditopang oleh dinding)

Interior Hagia Sophia

Interior Hagia Sophia

b. Romanesque (sekitar abad VI)

Beberapa tipologi dari bangunan-bangunan di Jaman Arsitektur Romanesque adalah sebagai berikut:

¨ Denah berbentuk Salib Kristen

¨ Pada umumnya memiliki pola melingkar yang mengambil dari pola kuil Pantheon di Jaman Romawi

¨ Pilar-pilar/kolom-kolom diletakkan di dalam ruangan dan tidak menempel pada dinding

Pada arsitektur Romanesque bentuk salib selalu didominasi dengan bentuk lengkung (tumpul). Hal ini terlihat pada denah. Pada jaman ini sudah melepaskan diri dari arsitektur Romawi dan mendasarkan pada arsitektur vernakuler Eropa yang masih sederhana. Atap-atapnya tidak lagi berupa kubah, melainkan sudah mulai meruncing (pitched roof). Juga mulai dikembangkan struktur busur penopang atap (tunnel vaults).

Eksterior gereja St. Michael, Hildensheim (1001-33)

Eksterior gereja St. Michael, Hildensheim (1001-33)

Interior katedral Speyer (1030-1106)

bentuk tunnel vaults

Interior katedral Speyer (1030-1106) bentuk tunnel vaults

c. Gothic (sekitar 1130 M)

Periode ini dimulai penyebarannya dari Prancis. Sebagai kelanjutan dari periode sebelumnya, yaitu adanya kecenderungan untuk menambah ketinggian langit-langit hingga jauh melebihi skala manusia, maka pada periode ini bentuk yang dianut merupakan bentuk arsitektur vernakular Eropa dengan beberapa penyempurnaan.

Tatanan denah dan bentuk globalnya lebih bebas dibandingkan dengan Bizantium dan Romanesque.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada periode ini di antaranya:

¨ Ketinggian langit-langit yang jauh melebihi skala manusia, terutama pada gereja-gereja dan katedral.

¨ Bentuk busur yang meruncing, dikarenakan keinginan untuk menciptakan atap meruncing sebagai ciri arsitektur vernakular Eropa. Hal ini merupakan tuntutan iklim salju.

¨ Pengembangan bentuk rib vaults—bentuk kubah yang menyerupai rusuk. Salah satu pembeda arsitektur Gothic dengan periode sebelumnya adalah sistem konstruksi kolom dan langit-langit tidak terpisah. Jadi antara kolom dan rusuk penyangga atap menyatu. Sebagai pengembangan dari struktur busur silang yang banyak digunakan pada periode sebelumnya, bentuk busur rusuk dapat dikatakan terinspirasi dari bentuk ranting pohon. Pada perkembangan selanjutnya, susunan rusuk yang terjadi malah menyerupai kipas.

Kapel King’s College, Cambridge, Inggris

bentuk busur yang berbentuk kipas (fan vaults)

Kapel King’s College, Cambridge, Inggris bentuk busur yang berbentuk kipas (fan vaults)

Nave dari katedral Exeter di Inggris, bentuk kubah rusuk (rib vaults)

Nave dari katedral Exeter di Inggris, bentuk kubah rusuk (rib vaults)

Perubahan bentuk kubah sejak jaman Byzanthium sampai Gothic:

rib vaults

rib vaults

tunnel vaults

tunnel vaults

cross vaults

interior katedral Durham, Inggris (1093)

cross vaults interior katedral Durham, Inggris (1093)

fan vaults

fan vaults

Di samping itu, diameter kolom menjadi besar karena sebenarnya kolom besar tersebut merupakan gabungan dari beberapa kolom kecil-kecil yang langsung menopang rusuk. Meskipun sama-sama berukuran besar, pada arsitektur Yunani hal ini lebih dikarenakan kebutuhan struktural untuk menopang beban atap dan entablature yang sangat besar.

¨ Kolomnya berkembang menjadi kolom strutural dan non struktural.

¨ Bukaan-bukaan yang lebar, sehingga arsitektur Gothik identik dengan permainan cahaya di interior. Permainan cahaya ini bertujuan untuk menambah keagungan dan unsur spiritual.

d. Renaissance (sekitar awal abad XIV)

Pada masa ini, perubahan dan perkembangan arsitektur dilihat dari tata denah dan sistem struktur dapat dikatakan kurang. Perkembangan denah yang tercatat hanyalah bahwa denah lebih bebas—tidak terikat pada tatanan baku seperti pada periode-periode sebelumnya—tetapi menganut simetri. Teknologi struktur juga mengalami stagnasi.

Perkembangan justru terjadi dalam usaha untuk “merias” diri. Hal ini dipengaruhi oleh banyak bermunculannya seniman patung dan pelukis pada masa itu—seperti Leonardo da Vinci dan Michaelangelo—sebagai dampak dari isu kelahiran kembali kesenian setelah lama ditekan oleh pihak gereja pada masa itu.

e. Baroque dan Rococo

Kecenderunag untuk merias arsitektur dengan ornamen semakin besar, dan mencapai puncaknya pada periode Baroque.

Pada periode ini marak dikembangkan seni melukis di langit-langit bangunan (fresco). Sedangkan di Prancis, Rococo merupakan wabah penggunaan ukiran tiga dimensional berbenuk kurva dan penggunaan lapisan emas pada ukiran-ukiran tersebut. Ornamen-ornamen ini dikembangkan sebagai perlambang status sosial pemilik bangunan dan mencerminkan prestise. Perbedaan pada gaya Baroque dan Rococo yaitu pada Baroque kemurnian geometrinya masih dapat terlihat sedang pada Rococo, ornamen-ornamen bangunan begitu banyaknya sehingga bentuk dasar geometrinya tidak terlihat.

Kegilaan akan ornamen yang berlebhan sehingga menghilangkan bentuk geometri dasar yang sebelumnya masih dapat diidentifikasi pada masa Renaissance, bentuk-bentuk ornamen yang “penuh gejolak”, serta ikut berkiprahnya seniman-seniman yang kurang bermutu menimbulkan kejenuhan pada masyarakat arsitektur. Kejenuhan akan kepura-puraan dan keinginan untuk melahirkan suatu karya yang bersifat lebih “tenang” melahirkan periode baru dalam arsitektur: periode arsitektur neo-klasik.


3. PERIODE NEO-KLASIK

Sebagai dampak dari kejenuhan akan ornamen, maka pada periode ini arsitektur dikembalikan pada kodratnya seperti pada masa sebelum periode Romantik.

Bentuk dan elemen-elemen yang diambil kembali ke masa klasik—Yunani dan Romawi—yang lebih menonjolkan ketenangan dan kesederhanaan. Namun pengaruh periode Romantik masih terasa, di antaranya melalui penggunaan material baru seperti logam dan kaca serta teknologi pengolahan baru. Jadi kelihatannya seperti arsitektur periode Baroque dengan ornamen yang tidak lebih kompleks namun menggunakan proses dan material baru.

Gaya yang berkembang pada periode ini antara lain:

Ø Art Deco

Cenderung untuk mengutamakan bentuk geometris dasar (lingkaran, segiempat, segitiga) atau geometrisasi dari bentuk natural. Dalam pencptaannya biasanya melibatkan emosi sekaligus logika, dengan perbandingan yang sama.

Ø Art Noveau

Bentuk yang terjadi merupakan bentuk natural, mempertahankan bentuk aslinya atau diubah tetapi tetap mempertahankan unsur kurva atau lengkung aslinya, misalnya bentuk sulur tanaman dan lain sebagainya. Sepenuhnya mengandalkan emosi.

Arsitek yang terkenal pada masa ini adalah Antoni Gaudí. Gaudí merupakan seorang arsitek yang ahli di bidang craftsman seperti seni menempa besi, mengukir batu, dan terutama keahliannya di bidang mosaic keramik. Keahlian ini dipakai Gaudí. hampir di seluruh karyanya.

Karya-karyanya banyak terinspirasi oleh alam. Ia berkata bahwa “…nature consisted of forces that work beneath the surface, which was merely an expression of this inner forces.“ Dia menganggap bahwa alam mengandung gaya-gaya di dalamnya. Sebagai contohnya ia mempelajari bagaimana reaksi batu ketika diberi tekanan dengan memberikan tekanan hidrolis. Sagrada Familia merupakan perwujudan dari keinginannya itu. Gereja ini memakan waktu 43 tahun untuk penyelesaiannya. Keseluruhan fasade gereja terbuat dari batu yang memerlukan ketrampilan pengrajin. Di tengah-tengah gereja-gereja lain yang masih bergaya Gothik, gereja ini tampil dengan gaya suburban yang mencerminkan sifat sosial Gaudí yaitu bahwa orang-orang kecil seperti pengrajin juga dapat berpartisipasi untuk membuat gereja.

Karya lain dari Gaudí juga terinspirasi bentuk-bentuk natural yang timbul dari permainan besi (sulur-sulur yang merambat), permainan batu (bentuk-bentuk batu yang alami seolah-olah mengalir). Bentuk alami ini dapat kita lihat pada karyanya Casa Milla, Casa Battlo (metafora dari ombak di pantai) menara pada Park Guell (metafora dari sarang lebah). Dia berkata bahwa bentuk yang natural itu lembut dan seakan-akan mengalir oleh bentuk-bentuk lekukannya. “ Here one can truthfully say that form does foolow function. Its sliding, dripping, re-forming, changing coulour and texture, soft architecture…”


ARSITEKTUR MODERN

PRAMODERN (Ars. Klasik dan Romantic)

ARSITEKTUR EKLEKTIK (handycraft)

- NEO KLASIK

- EKLEKTIKISME Transisi

ARSITEKTUR MODERN AWAL

RASIONALIS (Arsitektur yang masuk ke dalam teknologi) EKSPRESIONIS (emosi)

ART NOVEAU

- CUBISME

- CONSTRUCTIVISME

- BAUHAUS

- DE STIJL

- INTERNATIONAL STYLE

- BRUTALISME 1970

Banyak menerima kritikan-kririkan

Meskipun periode eklektik dan neo-klasik terjadi pada waktu yang bersamaan namun sesungguhnya terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu:

Ø Eklektikisme: terdapat kecenderungan untuk mencampur adukkan semua jenis gaya

arsitektur, terkadang tanpa mengindahkan kaidah komposisi dan

estetika.

Ø Neo Klasik: hanya mengambil satu bentuk/gaya arsitektur klasik Yunani atau

Romawi, dengan proses, teknologi dan material baru.

Beberapa latar belakang yang mempengaruhi masa transisi dari periode arsitektur eklektik ke periode arsitektur modern awal, sebagai cikal bakal arsitektur modern yang berkembang selanjutnya adalah kejenuhan terhadap keglamoran dan kepalsuan bentuk akibat terlalu bersoleknya arsitektur—akibat banyaknya ornamen—pada periode sesungguhnya. Hal ini memunculkan adanya ide baru terhadap gaya arsitektur, yang dijadikan pegangan dalam perkembangan arsitektur modern. Ide-ide itu adalah:

Ø Kesederhanaan

Penggunaan bentuk abstrak yang sederhana atau geometris murni. Biasanya menggunakan bentuk-bentuk dasar lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga.

Ø Ke-murni-an (puris)

Menciptakan hal yang baru tanpa mencontoh / menjiplak periode terdahulu. Kecenderungan untuk tidak bersikap pragmatis dan iconic ini merupakan suatu upaya untuk memutuskan rentetan kejadian arsitektur masa lalu, terutama dalam pemciptaan bentuk yang benar-benar baru.

Ø Universalitas (global)

Karena kesederhanaan bentuk maka bentuk yang terjadi dapat diterima semua kalangan, baik yang berada di satu wilayah yang sama maupun yang berbeda wilayah. Hal ini membuat arsitektur modern tampil polos dengan bentuk geometri saja. Tidak ada pembedaan langgam/style pada daerah yang berbeda.

Ø Antilokalitas dan Romantisme

Bentuknya sama dimanapun arsitektur itu berada (berkaitan dengan universalitas), lugas, tanpa kesempatan untuk “berpuisi ria”. Antilokalitas juga merupakan suatu upaya untuk melepaskan diri dari pengaruh arsitektur periode sebelumnya yang mengedepankan simbol-simbol vernakular.

Ø Kesan bangunan steril dan anti ornamen atuau order (langgam)

Tampangnya bersih tanpa ada ornamen atau langgam-langgam. Tidak mempunya identitas, sebagai akibat dari sikap arsitek pada masa itu yang “alergi” terhadap nilai kelokalan dan kepalsuan akibat ornamen.

Ø Asimetris

Suatu upaya untuk membuang image arsitektur pra-modern yang selalu digambarkan kaku, terikat pada kaidah-kaidah simetri. Sebagai hasilnya, arsitektur yang terjadi lebih bersifat dinamis.

Ø Teknologi dan material

Menggunakan cara atau proses baru yang berbeda dari arsitektur sebelumnya, di samping itu juga didapatkan temuan material baru seperti beton bertulang (reinforced concrete), besi, baja dan lain-lain. Selain itu teknologi pengolahan baru

Ø Sosialistik

Terkesan merakyat (tidak borjuis) karena bentuknya yang sederhana dan tanpa ornamen

Adanya ide-ide baru inilah membuat arsitektur modern menerima banyak kritikan di tahun 1970, karena arsitektur ini dinilai tidak mempunyai identitas, tidak memiliki ekspresi, serta tidak modis.

Terdapat dua ciri umum yang menjiwai periode modern yaitu:

1. Fungsionalisme

Pada era pra modern, yang dianggap sebagai arsitektur hanyalah bangunan-bangunan gereja dan istana. Bangunan diluar kedua tipe bangunan tersebut (seperti perumahan) tidak dianggap sebagai suatu arsitektur. Pada era modern timbul aktivitas-aktivitas baru yang membutuhkan wadah akibat dampak dari revolusi industri. Mulai bermunculan bangunan-bangunan pabrik, perkantoran, dan sebagainya.

Sebagai akibat Revolusi Industri, cara produksi bergeser dari teknik individual yang cenderung custom made, menjadi teknik produksi massal yang mengedepankan kebutuhan akan produk yang cepat dan murah. Pada sudut pandang arsitektur, hal ini ditandai dengan adanya kebutuhan akan pemukiman yang murah dan efisien.

Fungsionalisme kemudian timbul atas latar belakang di atas. Arsitektur modern mengedepankan fungsi dimana suatu arsitektur dapat mewadahi aktivitas. Berbeda dengan arsitek pada masa pra modern yang menata berdasarkan tipologi, arsitek modern menata berdasarkan fungsi.

2. Purisme

Purisme berasal dari akar kata pure (murni). Pada era modern arsitekturnya berusaha menjaga kemurnian bentuk geometrikal yang lepas dari ornamen-ornamen seolah-olah arsitektur modern alergi terhadap ornamen. Bentuk harus ditampilkan dengan sejujur-jujurnya (anti kamuflase).

Kecenderungan pada era ini adalah bahwa selama fungsi struktural dapat terpenuhi maka fungsi estetika boleh diabaikan. Hal ini menyebabkan tipe-tipe bangunan pada jaman ini hampir sama hanya dibedakan dari fungsinya saja ( bentuk merupakan nomor dua setelah fungsi )

Yang termasuk gaya-gaya utama (mainstream) yang termasuk dalam era modern di antaranya:

a. KUBISME tahun 1910

Arsitektur dianggap merupakan salah satu cabang dari seni rupa dan terpengaruh dengan trend seni rupa yang dipopulerkan oleh Pablo Picasso. Cirinya :

§ Geometrisasi fenomena alam, tidak tampil realistik

§ Memperlihatkan bagaimana benda-benda dipengaruhi oleh cahaya

§ Banyak mempermainkan unsur panjang lebar tinggi yang dikomposisikan dengan cahaya (baik alam maupun buatan)

§ Mengganggap arsitektur adalah rancangan ruang bukan kulit. Yang dirancang adalah volume bukan tampilan dari bidang-bidangnya

§ Mengganggap arsitektur adalah sebagai wadah atau kontainer dari suatu aktivitas.

Arsitek yang terkenal dari gaya ini:

Ø Le Corbusier

Arsitektur dianggap sebagai mesin hidup (living machine), yang terdiri dari bagian-bagian yang merupakan sebuah sistem dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (sistem pencahayaan, sistem struktur, dan sistem utilitas).

Falsafahnya tentang arsitektur adalah menciptakan rasa aman, keramah tamahan, kebahagiaan serta kesatuan yang harmonis dari bentuk-bentuk yang ada di bumi ini dan hubungannya dengan skala manusia. Selain itu desainnya dipengaruhi oleh bentuk-bentuk geometris, penggunaan beton eksposed dan permainan bayangan (seperti seni patung)

Ø Frank Lloyd Wright

Fallingwater

Fallingwater

Interior Johnson Administration Building

Interior Johnson Administration BuildingDengan paham dasar organic architecture, arsitektur diang-gap sebagai unsur organik dari alam (naturally). Karyanya yaitu museum Guggenheim di New York didisain seperti “siput beton”—spiral yang ber-kelanjutan naik dari lantai sampai keatas. Sedang dalam karyanya yaitu Johnson Administration Building kolom beton bertulangnya berbentuk seperti bunga lili . Lantainya berbahan pirex glass yang memberikan cahaya difus, jadi pengunjung yang datang seakan-akan membayangkan dirinya berada di dalam kolam dan di bawah naungan bunga-bunga Lili. Dalam mengembangkan semangat Purisme, Wright selalu menunjukkan keaslian karakteristik materialnya, “Dimana batu digunakan sebagai batu, kayu sebagai kayu dan kaca sebagai kaca”. Pengaplikasian konsep ini dapat kita lihat pada Fallingwater. Unutuk menunjang kesan Natural bangunan yang berdiri di atas air terjun ini, material lantai dan dindingnya adalah batu alam.

Konsep Kubisme yaitu permainan unsur vertikal dan horisontal yang juga dimasukkan dalam karya ini. Hal ini terlihat pada permainan-permainan kantilever-kantilever betonnya.

b. DE STIJL tahun 1920

Ciri utama dari gaya arsitektur De Stijl adalah :

§ Komposisi solid-void yaitu antara bidang masif dan bidang transparan (tidak ada jendela)

§ Spatialitas tampang yaitu permainan maju mundurnya massa sehingga menghasilkan lekukan yang harmonis.

§ Adanya komposisi unsur vertikal dan horizontal. Permainan ini bertujuan menghasilkan tampang (shape) dan wujud (silhoutte) yang estetis.

§ Pengkombinasian antara warna-warna primer ( biru, kuning, merah ). Warna- warnanya murni mengikuti aliran Purisme

§ Pengkomposisian unsur-unsur material dalam berasitektur

c. BAUHAUS tahun 1925

Bauhaus merupakan Sekolah Teknik yang didirikan oleh Walter Gropius di Dessau (Jerman) tahun 1925. Setiap karya lulusan sekolah ini dianggap memiliki ciri-ciri sendiri. Gaya ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

§ Memadukan keahlian (kepandaian dan seni) dengan kemajuan teknik (bahan dan struktur).

§ Didominasi dengan penggunaan material kaca dan permukaan yang licin

§ Lebih mengutamakan fungsi bangunan (bangunan dibuat berdasarkan fungsinya)

INTERNATIONAL STYLE tahun 1940-an

Pada era ini banyak didominasi oleh teknologi dan efisiensi. Teknologi yang baru pada saat itu memungkinkan dibuatnya pencakar langit (skyscraper) sehingga gedung-gedung berkembang pesat pada era ini. International Style merupakan perkembangan dari De Stijl berupa:

§ Selain mempertimbangkan fungsi juga mempertimbangkan efisien. Bentuk-bentuk yang dianggap tidak mempunyai fungsi (kurang efisien) dihilangkan.

§ Eksplorasi bahan/material baru. Penemuan bahan baru seperti beton bertulang dan baja mendorong para arsitek untuk emngeksplorasinya.

§ Lebih meninggalkan nuansa kelokalan

Dampak dari Internasional Style :

§ Estetika diabaikan karena mengejar teknologi dan efisiensi

§ Dengan teknologi baru dihasilkan material ringan tapi kuat sehingga harga tanah makin mahal. Bangunan banyak yang dibangun secara vertikal (perumahan dijadikan apartemen, perkantoran dijadikan skyscraper).

Dampak ini semakin menjadi-jadi pada era 60-an (era “Internasional Style”). Bangunan yang dibangun pada era ini umumnya memiliki tipologi yang sama: struktur rangka baja, bangunan high-rise (lebih dari sepuluh lantai), serta dinding non-struktural dari kaca. ­Keluarlah anggapan bahwa dasar merancang bentuk hanya melalui fungsi form follow function, komposisi geometri tidak diperhatikan. Arsitek yang terkenal adalah Mies van der Rohe, dengan doktrin less is more (total purisme). Bentuknya simpel, benar-benar anti terhadap ornamen. Falsafahnya tentang arsitektur adalah kesederhanaan, ketelitian, kerapihan, kedisiplinan, keseimbanagan dan bersifat umum; yang diungkapkan dalam tipologi bangunannya:

§ teratur (bentuk segi empat/blok), simetris (walaupun tidak mutlak).

§ netral penggunannya

§ eksterior tidak mencerminkan fungsi

§ rangka bangunan kaku dengan didnding pengisi yang dibuat indah

§ bahan-bahan buatan pabrik

§ mencerminkan keindahan mesin, memperhatikan detail

Dia juga menyatakan suatu teori yang mengatakan adanya penyatuan antara karakter bangunan dengan fungsi. Yang dimaksudkan adalah perancangan banguanan tidak hanya mempertimbangkan segi dalamnya saja, tetapi juga hubungannya dangan keadaan lingkungan di mana bangunan tersebut akan berdiri. Sehingga fungsi harus dapat bervariasi untuk setiap macam gedung yang dibangun. Dengan demikian, bisa dikatakan van der Rohe termasuk arsitek modern yang beraliran fungsionalisme.

L BRUTALISME

Aliran ini merupakan aliran pemberontakan akan Internasional style yang dinilai telah menyimpang dari semangat modern. Arsitektur pada periode ini merupakan “pancaroba” yaitu peralihan dari modern ke post modern. Pada masa ini estetika dari spatialitas tampang diperhatikan (cenderung ke post modern) namun masih dengan metode internasional style yang modern. Aliran ini dipelopori Paul Rudolph, yang banyak memperhatikan estetika dari spatialitas tampang. Walaupun dia lulus dari universitas Gropius and Breuer Graduate School of Design di Harvard, karyanya banyak terinspirasi oleh Frank Lloyd Wright. Karya Paul seperti School of Art and Architecture di Universitas Yale memperlihatkan banyak komposisi horzontal dan vertikal dan solid-void.

Rudolph seorang yang sangat peduli terhadap masalah urban. Ia menganngap bahwa bangunan adalah bagian dari kota. Karena itu karyanya banyak digunakan untuk pemukiman kota, sekolah, kantor pemerintah,dsb.


ARSITEKTUR MODERN DAN PERBANDINGANNYA TERHADAP ARSITEKTUR INDONESIA

Seperti diketahui, periodisasi arsitektur modern terjadi pada rentang 1900 sampai 1970-an. Di Indonesia sendiri, pengaruh arsitektur modern yang benar-benar bernuansa lokal baru mulai terasa pengaruhnya pada tahun 1950-an, meskipun pada kenyataannya pengaruh arsitektur modern masuk ke Indonesia—dibawa pemerintahan kolonial Belanda—sekitar 1920-an. Hal ini tak terlepas dari status Indonesia yang baru merdeka tahun 1945, dan dunia arsitektur Indonesia baru mulai berkembang pada masa itu.

Dari studi kasus, dapat diambil kesimpulan periodisasi tahapan arsitektur modern Indonesia, yaitu:

a. Periode 1950-1960

Pada masa ini bentuk-bentuk bangunan belum dimengerti oleh masyarakat setempat, kecuali bangunan yang sangat dibutuhkan seperti bangunan keagamaan, sekolah-sekolah dan kantor pemerintahan.

Masih banyak peninggalan jaman penjajahan, sangat memperhatikan iklim dan lingkungan.

b. Periode 1960-1970

Mulai membutuhkan bangunan dengan fungsi yang bermacam-macam. Memperhatikan iklim dan lingkungan. Pengaruh politis pada waktu itu (Orde lama) tidak memungkinkan berkembangnya bangunan komersial, kecuali beberapa bangunan yang merupakan proyek kebanggaan pemerintah.

c. Periode 1970-1980

Kemajuan teknologi terlihat terutama pada bangunan komersial di mana mereka saling berlomba untuk menarik konsumen.

Kebutuhan kadang-kadang mengalahkan faktor-faktor lingkungan, iklim dan kenyamanan. Saling berlomba untuk lebih mencerminkan kedudukan, keadaan sosial dan ekonomi pemiliknya.

Banyaknya informasi dan pendidikan arsitektur mengakibatkan timbulnya bermacam-macam bentuk. beberapa rumah tinggal kembali lagi menggunakan bentuk-bentuk tradisional, bahkan bentuk-bentuk yang berasal dari luar Indonesia.

d. Periode 1980-2000

Kejenuhan mulai timbul pada kalangan arsitek tertentu yang melihat kenyataan bahwa arsitektur modern sudah “wafat” pada dekade ’70-an. Namun pada kenyataannya kalangan konsumen masih menyanjung kemodernan sebagai perlambang status sosial, di mana semakin modern maka dianggap semakin berkelas. Baru pada penghujung abad XX, kejenuhan mulai timbul baik di kalangan konsumen, mulailah periode transisi ke masa post-modern.

About these ads


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: